“Siap, Pak.”
Abraham meneruskan langkahnya, menyusuri gang tua sempit sampai tiba di ruangannya, sebuah kamar sempit dengan jendela berterali wajik putih. Ia menuju jendela dan mendorongnya keluar. Matahari belum terlalu terik. Ia belum ingin memasang air conditioner. Hawa masih terasa sesak dalam ruangan kecil yang dipenuhi dengan surat-surat masuk, buku-buku tafsiran, dan Alkitab dalam berbagai versi.
Ia duduk di mejanya yang hanya memberikan sisa tempat cukup untuk laptop dan Alkitab yang terbuka. Kursi hitamnya berderit saat ia duduk. Keningnya berkerut. Semua tempat sepertinya protes kalau ia duduk, pikirnya. Ia tidak berlama-lama memikirkan mereka yang protes karena ada banyak hal yang harus dipikirkannya. Ia menyalakan laptopnya, mengecilkan suaranya agar tidak mengganggunya, kemudian meraih Alkitab, dan berdoa. Mungkin sekarang aku akan menemukan apa yang harus kucari atau aku lakukan, pikirnya. Ia membuka kitab sucinya. Tangannya menelusuri ayat yang dibacanya. "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Matius 22:37-40.”
Ia melipat tangan di depan dahinya dan memejamkan mata. “Tuhan, apa yang harus kulakukan? Mengapa hatiku demikian gelisah? Ataukah mungkin ada sesuatu yang telah aku lakukan tanpa aku sadari? Ya, Tuhan, aku mohon ampun padamu.”
Ia membuka mata dan melihat sebuah gambar surat besar di depan layar komputernya. Sebuah e-mail masuk. Tempat itu

memiliki wi-fi. Hubungan ke luar harus selalu dijaga agar mereka tidak ketinggalan berita. Bagaimana pun, organisasi mereka adalah wadah para gereja.
Ia membuka e-mailnya. Dari rekannya. Isinya sangat sederhana:
Bapak harus mencermati berita ini. Sangat serius.
Dalam e-mail itu dicantumkan alamat web dengan tulisan warna biru. Ia menekan tombolnya dan membaca judulnya. “International Burn a Koran Day”. Pengarang Islam is of the Devil.
Membakar Al-Quran? Siapa yang berani melakukannya? Apa alasannya? Ia merasa bulu kuduknya merinding. Matanya tercekat membacanya. Ia adalah seorang Kristen dan mempercayai Alkitab sebagai pegangan dalam hidupnya. Ia tidak membaca Al-Quran dalam kesehariannya, namun tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk menghilangkan Kitab Suci itu, atau kitab suci agama lain!
Jari-jarinya membukanya ke lembar demi lembar web page itu bagai terhipnotis. Ia membaca berita itu dan terhenyak.
Ia tidak yakin bahwa ia benar-benar ingin tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, namun kenyataan itu sekarang telah terbuka lebar di depannya.
Tidak mungkin ada orang yang sanggup melakukannya. Tuhan! Ya, Yesus. Ia mengatupkan wajah dan tangannya. Hatinya bagai dilecut.
Tidak mungkin ada manusia yang menghakimi keyakinan orang lain demikian kejamnya. Tidak mungkin! Ia bangkit berdiri namun merasa kakinya lemas. Ia jatuh tersungkur. Apa jadinya kalau hal itu benar-benar terjadi? Ia menatap Alkitab yang ada di mejanya, yang baru dibacanya dan meraihnya perlahan, mengingat ayat yang baru dibacanya. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada saat itu baru ada

agama-agama di negeri timur, dan Yesus tidak mengatakan untuk mengasihi sesama orang Yahudi, atau bangsa Israel, atau kaum Farisi, atau apa pun. Ia meminta mereka untuk mengasihi semua orang tanpa kecuali. Ia pun memberikan teladan demikian. Ia mengampuni para pelacur, memberikan kesempatan kedua pada mereka, mengunjungi dan memperbaharui kehidupan para pemungut cukai, menghormati pemerintahan yang ada, memberikan tubuhnya untuk disiksa dan mengampuni mereka yang mengutuk dan menyayat tubuhnya; apa pun dan bagaimana pun pendapat orang, ia mencontohkan kasih pada mereka. Ia tidak melawan ketika berhadapan dengan para penguasa dan diam dalam seribu bahasa.
Ia, Abraham, tidak pernah memusuhi sesamanya manusia. Kristen pun tidak mengajarkan demikian.
Ia tidak dapat membayangkan, bagaimana kalau Alkitab sampai harus dibakar. Kitab Suci yang setiap hari dibaca dan direnungkannya, yang telah menjadi bacaannya sejak ia bahkan belum benar-benar dapat membaca dan menulis. Buku yang diyakini mama dan papanya, yang diajarkannya kepadanya. Buku yang menjadi pegangan hidupnya untuk menggali kekuatannya kala menghadapi kesusahan, kala ia galau dan tidak tahu ke mana ia harus melangkah. Buku yang selalu dibuka dan direnungkannya dalam-dalam tentang makna dan isinya. Buku yang isinya selalu dikhotbahkannya kepada jemaatnya.
Buku yang tidak berani dibuatnya kotor. Ia paham, buku itu bukan Tuhan. Buku itu hanya benda mati—namun apa yang dibacanya di sana telah membangun hidupnya, membentuknya menjadi Abraham yang sekarang. Seorang pendeta dan pengurus dari banyak gereja. Kitab Suci itu adalah sebuah simbol kepercayaan, yang mengatakan tentang keyakinan akan sebuah kehidupan yang jauh lebih penting daripada kehidupan penuh

penderitaan di masa sekarang—tentang kehidupan setelah kematian.
Ia tidak mungkin mengatakan tidak kepada apa yang tertulis di sana. Hal itu sama dengan mengingkari dirinya sendiri, mengingkari Tuhan semesta alam yang digambarkan dalam kitab yang dibacanya. Tanpa kepercayaannya, ia hanyalah seonggok daging tanpa makna, seonggok raga tanpa jasa, dan setitik debu tanpa harga.
Buku itu adalah simbol kehidupannya sebagai manusia, bagi orang-orang yang diajarnya, dan oleh mereka yang telah mengajarnya dengan kasih sayang.

Abraham kecil, yang baru berumur lima tahun berlari sambil membawa Alkitab kecil ke arah ibunya dan tersenyum bangga di halaman Gereja, “Mama, aku dapat gambar tentang Yesus.”
“Oh ya?” Ibunya, seorang wanita berambut lembut sebahu merasa anak laki-lakinya menabrak tubuhnya karena terlalu bersemangat. Ia tertawa dan membungkuk, mengangkat tubuh kecil itu ke udara dan Abraham kecil tertawa.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Ibu Guruku tanya, siapa nama ibu Yesus di dunia? dan aku bilang, Maria. Aku nggak akan lupa karena nama mama sama, dan Yesus ada dalam hati aku, seperti Papa dan Mama yang selalu aku inget!”
Tangannya menggenggam erat Alkitab kecil yang dibawanya—padahal ia belum mengerti satu huruf pun di dalamnya, namun membawanya memberikan semua rasa tersendiri padanya. Seakan-akan ia adalah seorang yang saleh. Ya, seolah-olah saja.

Puluhan tahun kemudian, Abraham masih mengingat kejadian itu. Setetes air mata mengalir di matanya....
 

TIDAK!
Ya, Tuhan, bisiknya dalam hati. Jangan biarkan hal ini terjadi. Tidak mungkin ada orang yang dapat menghakimi orang lain dengan demikian kejam, mengatakan bahwa ia adalah yang paling benar.
Hanya Engkau, Engkau satu-satunya yang memegang kebenaran itu. Kalaulah Engkau ingin menyamaratakan seluruh umat manusia, Engkau tidak akan mengacaukan menara Babel dan mencerai-beraikan manusia dalam berbagai bangsa dan bahasa. Engkau yang telah menciptakan perbedaan namun meminta harmoni dan kedamaian di antara semua kaum...Engkau yang meminta manusia hidup dalam keanekaragaman dengan kesetaraan.
Mengapa ada manusia yang merasa bahwa dirinya paling benar?
Abraham bangkit dari lantai, merayap dan meraba Alkitabnya. Ia memejamkan mata.
Kalau ia adalah seorang muslim, dan kitab yang sedang dipeluknya adalah Al-Quran.... Kalau Alkitab yang dipercayainya dengan sepenuh hatinya—yang telah menjadi panutan hidup seumur hidupnya dikatakan sesat dan harus dibakar...
Apa yang akan dirasakannya?
Setetes air mata mengalir runtuh dari mata yang sudah melihat banyak—berbagai penderitaan dalam dunia. Tidak sekali pun ia mempertanyakannya. Setiap manusia memiliki mangkoknya masing-masing. Salib-nya. Penderitaan mereka masing-masing.
Ia mencintai Yesus, sangat mencintainya, dan saudara-saudaranya umat Muslim mencintai Nabi Muhammad S.A.W, sang Rasul. Ia tidak menemukan kisah hidup Nabi Muhammad dalam kitabnya, karena Nabi Muhammad hidup beberapa ratus

tahun setelah Yesus hidup, namun hal itu bukan sebuah hal yang prinsipil. Agama Budha dan Hindu pun telah ada sebelum Yesus dilahirkan ke dunia, dan Alkitabnya tidak merekam banyak catatan tentang hal ini, karena Alkitabnya hanya mencatat hal-hal yang penting bagi pertumbuhan iman orang-orang Kristen, bukan sebuah catatan sejarah.
Semua memiliki kitab mereka masing-masing.
Allah memiliki banyak cara. Kalau manusia yang segambar dengan citra Allah memiliki kreativitas yang demikian tinggi, apalagi sang Khalik, penciptaNya. Apakah ia dapat menghakimi cara Allah berkomunikasi?
Apakah Allah hanya akan berkomunikasi dengan satu cara?
Mungkin ia harus mati terlebih dahulu untuk mendapatkan jawabannya. Sampai ia bertemu dengan Sang Khalik dan bertanya langsung padaNya.
Mungkin ia akan ternganga-nganga, melihat apa yang dilihatnya di dunia ini berbeda dengan apa yang terjadi di atas langit sana. Mungkin ada yang terbalik, yang kaya menjadi miskin, yang hina menjadi terhormat, yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar.
Siapa yang akan pernah benar-benar dapat mengatakannya?
Hanya hati manusia yang tahu, namun hati yang bagaimana pula?
Ada begitu banyak suara dalam hatinya.
Namun, dari sekumpulan suara yang didengar manusia berbaur dengan keinginan dan hati yang ingin mencari Allah dan melakukan apa yang dikehendakiNya, Allah memberikan petunjuk-petunjuknya.
Hatinya memilih Kristen, menjadikan Yesus dan ajaran yang disampaikanNya sebagai hal yang harus diikutinya, sedangkan kawan-kawan muslimnya mempercayai apa yang diajarkan Nabi Muhammad S.A.W. Banyak perkawinan fakta yang terjadi

dalam setiap ajaran, dan keyakinan bukan untuk diperdebatkan. Bagaimana mungkin memperdebatkan sesuatu yang diyakini dalam hati, sesuatu yang diserap secara berbeda-beda namun diyakini?
Agama bukan matematika. Sebuah keyakinan bukan seumpama sebuah masalah yang dapat diuraikan menjadi penjabaran kecil yang kemudiaan ditelaah satu per satu.
Agama berbicara melalui hati—bahkan dalam doanya ia selalu meminta Tuhan menghidupkan huruf-huruf mati yang dibacanya dan membiarkan Roh Kudus menerangi hatinya. Ada roh yang membantunya. Ia tidak pernah benar-benar melihat Roh Kudus itu. Ia bahkan tidak pernah melihat hantu apa pun. Kalau Roh penolong itu ada, maka ada roh-roh jahat di udara pula.
Itu bukan wilayahnya. Ia bukan mahkhluk halus. Ia adalah manusia dan kepentingan yang harus diurusnya adalah yang berkenaan dengan manusia. Dan dengan pertolongan sang Penolong, ia memahaminya dan Alkitab tidak menjadi bagai sebuah bacaan belaka yang segera dilupakan. Bukan apa yang dibacanya yang diyakininya, namun apa yang diajarkan sang Penolong melalui hatinya yang dipercayainya.
Manusia menjadi percaya pada Tuhan karena ada yang menolongnya.
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri, demikian dikatakan dalam Alkitab.
... dan jika Tuhan-mu meng¬hendaki tentulah beriman semua yang di muka bumi seluruhnya, demikian yang dikatakan Al-Quran.
Tuhan yang memberi iman.
 

Manusia hanya seonggok daging yang tak berarti tanpa jiwa dan rohnya, tanpa keyakinannya.
Manusia tidak mungkin mempertentangkan apa yang menjadi keyakinan satu dengan lainnya.
Dan Kitab Suci, Kitab Suci dari agama apa pun adalah pasangan imannya.
Abraham menatap kitabnya. Ia tidak mungkin membakar Kitab Sucinya, atau Kitab Suci agama lain.
Ia hanya manusia. Ia tidak memiliki hak demikian dasyat untuk melakukannya. Tidak ada yang memberinya plakat kehormatan padanya untuk melakukannya. Ia tidak mungkin melakukannya pada orang lain. Apalagi di hari perayaan kemenangan mereka!
Bagaikan membakar Alkitab di hari Paskah.
Hal itu akan mengoyakkan hati, iman, dan jati diri mereka.
Tidak ada manusia yang boleh melakukannya.
Tidak!
Terdengar bunyi ketukan.
Abraham tersentak. Ternyata ia masih duduk di lantai. Ia bangkit perlahan, mengusap air matanya, dan duduk di kursinya sambil berkata, “Masuk.”
Rekan sekerjanya, seorang yang berwajah kusut—wajahnya tidak selalu kusut, seingatnya. Ia tidak pernah benar-benar memperhatikan hal itu, namun sekarang, sepertinya pria yang bertubuh kekar dengan pembawaan kalem itu lebih kusut daripada biasanya.
“Duduklah, Erik.” Kedua pria itu terdiam selama beberapa saat. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. “Bagaimana menurutmu?” akhirnya Abraham berkata, setelah beberapa saat terdiam.
“Aku tidak tahu,” kata Erik akhirnya. “Aku sendiri juga bingung dan masih terkejut.”
 

“Berita ini sudah berada di mana-mana, di CNN, dan media-media asing.” Abraham mengatakan apa yang sebenarnya sudah diketahui Erik, namun ia tidak dapat duduk diam dan tidak mengulanginya—untuk merangsang pikiran dan hati mereka mencari sebuah penyelesaian.
Erik pun menimpalinya. “Iya. Asosiasi Nasional Evangelis, kelompok evangelis terbesar di Amerika Serikat sudah mengeluarkan pernyataan supaya Dove World ini membatalkan rencana mereka. Council on American-Islamic Relations juga sudah menyerukan umat Muslim di Amerika untuk tidak mengadakan reaksi.”
“Harus ada yang kita lakukan. Masalah ini mungkin belum sampai ke sini—tapi...” Abraham terdiam.
“Hal ini akan sampai ke Indonesia. Semua yang dari Amerika, apalagi yang menjadi bahan internasional pasti akan sampai ke Indonesia. Tergantung waktunya saja. meskipun media beritanya cuma facebook dan website.”
“Sangat provokatif. Saya—“ Abrahan terdiam sejenak sebelum berkata, “Saya sangat terkejut.”
“Saya tahu, Pak. Saya juga shock. Kok ada orang yang bisa sampai mikir begitu.”
“Sangat menyedihkan.” Abraham merenung.
“Apa yang akan kita lakukan, Pak? Kita harus melakukan sesuatu, kan? Atau hal ini didiemin aja?”
“Amati terus perkembangannya.” Ia mendesah. “Kita bisa mengetahui berita ini. Berita ini pun sudah ada di youtube, CNN, web-web, dan Facebook. Semua media.”
“Katanya mereka bukan Hitler. Mereka hanya ingin menyatakan sikap.”
“Mereka tidak menyerang fisik agama lain, namun mereka menusuk hati mereka.” Abraham menggelengkan kepala. “Sulit dipercaya. Rasanya mau menangis mendengar cerita ini.”
 

Malam itu Abraham pulang ke rumahnya dalam sikap diam seribu bahasa dan hanya bercerita singkat pada istrinya yang hanya dapat terpekur mendengarnya. “Aku akan melakukan sesuatu, Ma,” katanya. “Aku telah menggumulkannya. Aku tidak dapat diam saja.”
“Kenapa harus kamu?”
“Yah, aku dan teman-temanku yang mau.”
Istrinya terdiam, termangu di meja makan.
“Aku tidak bisa diam saja.”
“Kau berlari di lantai berminyak, Pa.”
Abraham menatap sayur bayam yang nyaris tidak disentuhnya. “Aku tahu, tapi lebih baik aku yang berlari dulu dan memberitahukan pada yang lain untuk berhati-hati, sehingga saat mereka melaluinya, lantai itu sudah tidak sebasah saat aku berlari, dan mereka dapat melaluinya dengan lebih hati-hati, dengan mengendalikan diri, daripada mereka berjalan bersama-sama, berteriak terkejut dan jatuh. Tidak. Jangan sampai ada yang jatuh.” Ia menatap jagung yang mengambang dalam sop bayamnya. “Jangan ada satu pun yang jatuh. Kita semua mengakui satu Tuhan. Kita semua sudah hidup dalam perdamaian, sekalipun di sana-sini kadang masih terjadi letupan.” Tangannya mengepal keras. “Aku ingin mengutuk mereka yang telah menyiramkan minyak itu—”
“Tapi kita tidak pernah mengutuk sesama manusia, Pa. Siapa pun dia.”
Abraham mendesah keras. “Ya. Kita tidak akan mengutuk, tapi aku sangat mengecam keras—tindakan mereka tidak beradab. Kalau para teroris menyerang fisik, mereka menyerang hati manusia, dan aku tidak tahu, mana yang lebih parah.” Ia menatap makanannya dan berkata pelan, “Maaf, ya, Ma. Papa

bukannya nggak menghargai Mama udah masak, tapi Papa sekarang nggak bisa makan.”

BAB 5

“Kita akan melakukan upaya preventif,” kata Abraham pada Erik yang pagi-pagi telah duduk di depannya, dalam kantornya yang kecil.
“Bagaimana caranya?”
Abraham mengatupkan pergelangan tangannya dan menutulkannya pada bibirnya. Hari itu ia lupa bercukur dan tangannya yang terkepal dapat merasakan tajamnya rambut-rambut kecil yang belum sempat dicukurnya. Ia melirik rekannya yang duduk di depan dengan serius. Semakin kusut saja penampilannya, pikir Abraham, namun ia tidak ingin memperhatikan hal itu lebih lanjut. Tidak ada hal yang esensial dari pemikiran yang sia-sia.
Ada sesuatu yang lebih penting yang sedang dipikirkannya.
“Aku sudah mengirimkan e-mail dan surat-surat pada gereja-gereja yang menjadi anggota kita. Setidaknya untuk ditanggulangi bersama.”
“Tidak cukup. Apa yang dapat mereka lakukan? Kita harus melakukan sebuah upaya yang akan menggalang perdamaian.

Sebuah aksi yang menyejukkan, yang mempersiapkan saudara-saudara kita dari agama yang berbeda agar jangan terpancing. Dove World Outreach Centre adalah sebuah aliran yang menyesatkan umat. Dasar Kristen tidak dibangun dari benih perpecahan dan pertikaian. Yesus datang bagi seluruh semua umat manusia tanpa terkecuali. Ia tidak melawan pemerintahan yang ada. Ia tidak mengusung senjata untuk menebar ajarannya. Ia menebarkan benih kasih bagi mereka yang tertindas, dan mereka yang pada akhirnya menangkapnya adalah mereka yang iri padanya, bukan karena balas dendam. Ia berkata dalam Matius 5: 38-44 Hukum Taurat: Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Abraham berkata cepat pada Erik dalam suara yang agak putus asa, dan menggelengkan kepala melihat pria di depannya terdiam. “Apa yang sedang kukatakan padamu ini? Kau pun mengetahuinya. Kau pun seorang pendeta. Hal yang mereka lakukan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Kristiani karena mereka menabur benci. Hanya iblis yang menabur kebencian. Kau tidak dapat menegakkan kesucian apabila yang kau tabur adalah kebencian. Iblis adalah bapak kebencian dan akar dosa adalah kebencian.”

Erik mengangguk-angguk dan mendengar Abraham melanjutkan, “Sekalipun mereka merasa diri mereka sendiri benar, sebenarnya, mereka telah melanggar hal yang lebih hakiki, hal yang melandasi seluruh hukum dan kitab para nabi.”
“Kasih.” Erik melanjutkan.
Abraham mendesah. Pikirannya berputar dengan cepat. “Tidak cukup hanya bagi kalangan Kristen. Harus ada yang menjembatani pemikiran dan sikap kita,” katanya perlahan, kemudian berkata, “Harus ada yang mengatakan pada orang-orang di sekitar kita bahwa orang Kristen tidak setuju dengan tindakan dan ajaran Dove World Outreach Centre. Kita tidak dapat memperkenalkan kekristenan dengan cara kekerasan. Apa yang ingin dicapai? Perseteruan?” Abraham bangkit berdiri dan berjalan ke arah jendelanya. Matanya menatap jauh ke depan, dan tiba-tiba ia berkata, “Biar aku bicara dengan Damien.”
“Siapa dia? Oh, yang mau ngadain renungan 70 tahun Gus Dur, ya?”
Abraham mengangguk. “Dia orang yang sangat peduli dengan pluralisme. Ia pasti memahami kegelisahan ini.”
Damien sedang melakukan survey lokasi di Puncak, di sebuah lokasi yang akan dijadikan setting filmnya yang baru, ketika blackberry-nya berdering. Menatap daerah pegunungan yang masih liar dan sejuk, duduk di atas sebuah undakan batu alam yang ditancapkan alam, di salah satu tanah miring, Damien mendengarkan ungkapan kegelisahan yang disampaikan temannya. Dengan cepat ia dapat menangkap betapa kritisnya hal ini untuk disampaikan pada masyarakat umum, dan ia berkata, “Jadi, maksudnya, Mas ingin menyatakan sikap?”
“Ya.”
“GPP akan mengadakan renungan 70 tahun Gus Dur tentang merawat Pluralisme. Bagaimana kalau saya menambahkannya dengan acara Konferensi Pers setelah itu?”
 

“Para wartawan akan hadir jam dua siang, sesuai undangan. Kita akan melakukan konferensi pers jam 4. Saya akan menyebarkankan berita ini dan meminta kehadiran mereka, dan juga mengundang semua agama yang ikut tergerak untuk bersama menyatakan sikap menentang ini.” kata Damien.
“Apakah agama lain juga akan turun berpartisipasi?”
“Dove World telah melanggar hak azasi manusia. Hal ini sudah bukan masalah satu dua agama, tapi masalah kita bersama. Saya yakin, teman-teman pemuka agama yang lain akan setuju.”
“Terima kasih, Damien. Masalah ini sangat krusial, bagaikan bom waktu yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat yang sudah terbina dengan cukup baik.”
“Ya. Saya sangat mengerti.”

 


BAB 6

Wartawan dari berbagai media,lokal dan internasional, memenuhi ruangan. Kantor-kantor berita asing pun hadir. Air conditioner yang dipasang tidak dapat melawan energi yang dikeluarkan oleh tubuh-tubuh yang berdesakan, berpikir keras, terlebih mereka yang sedang terbakar semangat membela agama mereka. Isu agama adalah sesuatu yang tidak pernah berhenti dilempar karena masalah itu masih terus menjadi salah satu batu rapuh yang menyusun ke-bhinneka-an bangsa. Seperti survei yang dilakukan oleh sebuah lembaga independen, Setara Institut, yang menyatakan telah terjadi peningkatan serangan dan gangguan terhadap pluralisme dari 18 kali pada tahun 2008 menjadi 28 kali sepanjang Januari hingga Juli tahun ini, dan dilakukan oleh bermacam-macam kelompok dan organisasi.
Setelah acara yang diselenggarakan di PGI ini dibuka oleh Pendeta Dr. Gomar Gultom, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Damien, dalam pakaian hitam-hitamnya, dengan rambut lurus panjang bak pesilat, dengan wajah bersih bersinar optimis, berkata dalam kapasitasnya sebagai moderator acara, sekaligus penggagas gerakan ini, “Gus Dur adalah pahlawan kemanusiaan, yang sepak terjangnya

membela sesama tak pernah lepas dari pembelaan terhadap eksistensi pluralisme dan perjuangan multikulturalisme. Gus Dur, yang dengan gayanya yang khas, tanpa pandang bulu, tanpa tedeng aling-aling, waktu beliau menjadi ulama, presiden, ketua PBNU, atau menjadi hamba Allah. Gus Dur, yang mencintai Allah dan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, tanpa mempedulikan pandangan orang, seorang berjiwa besar yang selalu bergaya sederhana yang telah berjuang mati-matian untuk mengangkat harkat dan martabat mereka yang tertindas dan terdiskriminasi, serta membela kaum minoritas untuk memiliki persamaan hak. Gus Dur, bapak bangsa, yang kalau masih hidup akan berusia 70 tahun, yang meyakini bahwa pluralitas adalah Fitrah. Karenanya, kita akan mencoba menggali ulang tentang apa yang telah terjadi di sekitar kita. Jadi, issue yang dilempar pada para panelis sekarang adalah tentang merawat pluralisme. Bagaimana nasib pluralisme di negara ini sekarang? Apakah pluralisme kita sedang sakit dan membutuhkan rawat inap, rawat jalan, atau rawat alternatif?”
Sang kiai berkharisma, pemimpin umat dari kalangan Nahdlatul Ulama yang akrab dipanggil Gus Nuril, dengan rambut panjang yang unik dan dalam pakaian muslimnya yang gagah berkata khas, “Jadi, NU ini harus terlibat aktif dalam merawat pluralisme, karena kalau NU tidak merawat pluralisme, maka pluralisme itu akan tamat.”
“Begitu. Jadi, Nahdlatul Ulama, yang dibangun oleh KH. Hasyim Asyari, kakek Gus Dur, ini harus terus merawat pluralisme dan memompa keluar semua aspek-aspek yang mengganggu keutuhan bangsa ya, Gus?”
Zuhairi Misrawi, seorang cendekiawan muda Muslim, seorang penulis dan mantan murid pesantren pun menyambung,

“Jadi, seperti yang dikatakan dalam salah satu ayat suci Al-Quran, bahwa semua agama adalah Islam.”
“Oh ya?” Damien menatap kedua panelisnya, memberikan semangat untuk melanjutkan.
“Ya,” angguk Gus Nuril tegas, menghentakkan tongkatnya, dan Zuhairi melanjutkan, “Maksudnya Islam di sini itu kepasrahan diri kepada Tuhan. Di Al-Quran itu, ada 300 ayat yang bicara tentang pentingnya toleransi. Jadi, merawat pluralisme itu berarti merawat agamanya karena Al-Quran adalah kitab pluralisme.”
Damien memandang para tamu yang hadir. Ia yakin mereka adalah campuran dari seluruh elemen masyarakat, dari yang ingin diketahui dan bebas memberikan namanya, maupun mereka yang hanya dapat menuliskan nama depan di buku tamu. Itu pun bukan nama asli. Mereka yang ingin melihat, mereka yang ingin tahu lebih jauh perkembangan pertemuan ini, dan memantau diam-diam dalam agenda masing-masing, sampai mereka yang berani mengutarakan pendapat dan terlibat aktif dalam perbincangan hangat... lagi-lagi tentang agama dan keyakinan.
Saat perbincangan beralih pada masalah teroris yang mengancam kehidupan pluralisme Indonesia dan mereka yang memaksakan kehendak, Gus Nuril berkata, “Islam itu agama damai. Jangan dibajak dan disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau golongan.
Tiba-tiba ada interupsi, “Gerakan ini jangan cuma ngadain seminar-seminar dan forum dong. Bicara dan ajak kelompok-kelompok yang dianggap fundamental!”
Terdengar gumaman setuju dari berbagai pihak. Abraham yang duduk di antara para tamu bertukar tatap dengan Erik di sebelahnya dan mengangguk.
“Iya, Damien! Gimana! Mau nggak berdialog sama mereka?”
 

Damien mengangguk. “Baik, jadi kita menyepakati akan ada pendekatan untuk berdialog.”
“Iya!”
“Lalu gimana dengan campur tangan pemerintah? Apakah pemerintah harus turun lebih aktif untuk mengatasi hal ini? Maksudnya, jangan hanya pada tatatan mementingkan ketertiban, tapi juga turun menjaga unsur HAM dan kebebasan beragama.”
“Setuju!”
Pong Hardjatmo, seorang aktor senior, yang memilih cara kreatif dalam menyuarakan aspirasinya dengan menjadi “Spiderman” memanjat gedung MPR, sesuai dengan keartisannya yang cinta seni mengatakan bahwa, “Pluralisme adalah sesuatu yang indah dan kita harus memperjuangkannya.
Bungaran Saragih, mantan menteri pertanian pada era Gus Dur, berkata, “Saya ingin menyampaikan bahwa sebenarnya, Indonesia ini masih memiliki tingkat pluralisme yang jauh lebih baik daripada negara-negara yang lain. Ini dikatakan oleh salah satu mantan presiden Jerman ketika bertemu dengan kami, pada masa era pemerintahan Gus Dur.”
Damien mengangguk-angguk. “Jadi, walaupun pluralisme di negara ini dikatakan sakit, tapi taraf sakitnya masih dalam perdebatan, apakah pengobatannya masih membutuhkan rawat jalan, rawat inap, atau rawat alternatif.” Ia melirik jam tangannya. Sudah pukul empat lebih. Nyaris setengah lima. Beberapa tamu baru datang.
Ia melihat ke depan, pada Basim Umar, seorang berjubah dan bersorban putih—seseorang yang dikenalnya dari kalangan fundamentalis, berkacamata kecil, dan terlihat intelek. Damien tersenyum dan mempersilakannya duduk di depan. Demikian pula dengan para pemimpin agama, para ketua, dan pemuka masyarakat yang hadir untuk mengenang dan merenung tentang

Gus Dur, sekaligus untuk memberikan suara dan dukungannya untuk penolakan pembakaran Al-Quran di Amerika Serikat. Hadir di antara mereka, antara lain Dr. Eggi Sudjana, Dr. Yulia Satari, Drs. Nyoman Udayana Sangging, SH, MM, perwakilan PGI, Maarif Institut, MATAKIN, dan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat lainnya.
Dari tempat duduknya di kursi hadirin, Erik memperhatikan mereka yang duduk di depan, dan tatapannya bertemu dengan Abraham yang duduk di depan dengan serius. Ia baru tersenyum tipis dan mendengar Pendeta Hendrik, perwakilan dari Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia mulai membacakan pernyataan bersama mereka:

“Beberapa hari belakangan ini, komunitas Agama-Agama di Dunia sangat “terusik” dengan provokasi dari kelompok yang menamakan dirinya Dove World Outreach Center, yang berkantor di Florida, Amerika Serikat. Kelompok non-denominasi dibawah pimpinan Senior Pastor Dr. Terry dan Sylvia Jones yang mengatasnamakan Kristen ini pada halaman web dan akun facebook-nya mengkampanyekan Pembakaran Al’Quran - Kitab Suci Agama Islam, pada peringatan 9 Tahun Tragedi WTC (9/11) yang akan datang. Bagi kami, kampanye dan provokasi Pastor Dr. Terry dan Sylvia Jones itu merupakan tindakan yang tidak terpuji, tidak beradab dan patut dikecam.
Kampanye dan rencana aksi dari Dove World Outreach Center tersebut, jelas-jelas merupakan pelecehan terhadap agama Islam, Pelanggaran Terhadap kebebasan beragama yang berarti juga pelanggaran terhadap Deklarasi Internasional tentang HAK ASASI MANUSIA.
Menyikapi kondisi yang terjadi, dengan ini kami Gerakan Peduli Pluralime (GPP) menyerukan beberapa hal sebagai berikut:
 

1. Kami mengecam keras rencana aksi pembakaran Al’Quran di Amerika Serikat oleh Dove World Outreach Center.
2. Dove World Outreach Center agar dapat menarik pernyataan dan menghentikan rencana Aksi yang tidak terpuji dan melecehkan keyakinan Iman Agama lain.
3. Pemerintah Amerika Serikat agar segera menghentikan rencana aksi tidak beradab Dove World Outreach Center karena aksi itu bukan saja melanggar hak azasi manusia tetapi juga bisa memicu ketegangan dan konflik antar umat beragama di seluruh penjuru dunia.
4. Kami meminta semua pihak untuk tidak mengikuti himbauan dari Dove World Outreach Center tersebut.
5. Kami menyerukan agar umat manusia, termasuk umat beragama di Indonesia, agar tidak terjebak dalam perbuatan-perbuatan anarkis seperti ini yang justru tidak memperlihatkan sikap keadaban.
6. Pemerintah Republik Indonesia untuk terus melakukan tugas menfasilitasi kehidupan kebebasan beragama di Indonesia yang lebih baik. Dan Menghimbau kepada masyarakat Indonesia untuk menjaga kondisi keamanan dan harmonisasi umat beragama di Indonesia terutama memasuki Bulan Ramadhan – Ibadah Puasa umat Islam.”

Pernyataan ini ditandatangani oleh para pemuka agama, lembaga swadaya masyarakat, para aktivis kemanusiaan, dan kemudian Damien membacakan versi bahasa Inggrisnya.
Mereka mengangkat tangan bersama yang diabadikan oleh jurnalis media dalam dan luar negeri, dan kemudian mereka duduk kembali di depan, dan mulailah sebuah tanya jawab dilemparkan.
Sang aktor senior yang merasa sangat terusik dengan berita rencana pembakaran yang akan dilakukan ini dan tidak habis

mengerti mengapa ada orang yang dapat mengidekan hal itu, akhirnya tidak tahan lagi dan bertanya, “Saya heran, kok orang seperti Dr. Terry ini bisa lulus jadi pastur?”
Menjadi pastur atau tidak, menjadi ulama atau tidak, menjadi pemimpin sebuah negara atau tidak. Setiap orang dapat menjadi fanatik yang berujung pada pemaksaan kehendak, bahwa mereka, atau kelompok mereka, adalah yang paling benar. Dan siapakah orang yang paling dapat memaksakan kehendak pada orang lain kalau bukan orang yang memiliki kemampuan memimpin dan mempengaruhi orang lain?
Sang aktor senior kemudian menambahkan kembali, “Ya, coba, tolong Damien, hal ini diberitahukan kepada pihak Amerika!”
Eggi Sudjana berkata pada sang moderator pula, “Damien, kita harus menyampaikan hal ini pada pemerintah Amerika Serikat.”
Damien menatapnya, dan terdengar gumamaman setuju dari berbagai kalangan.
“Ya, Damien! Aspirasi kita agar disampaikan! Ke Amerika Serikat!” seorang peserta berkata, didukung oleh beberapa suara menggumam yang menyetujuinya.
Akhirnya, Damien yang pada akhir-akhir ini sering diasosiasikan dengan film Little Obama, kisah tentang kehidupan presiden Amerika Serikat itu, dan karenanya, juga dianggap memiliki kenalan orang kedutaan pun mengangguk. “Kita akan mengusahakan agar aspirasi ini setidaknya dapat didengarkan,” akhirnya pria itu berkata dengan tenang dan optimis—suatu sifat yang tidak pernah ditinggalkannya dalam menghadapi berbagai pergumulan bangsanya.
Selalu masih ada harapan. Jangan hidup dalam sebuah pesimisme dan negativisme. Sebuah aura dan iman yang kuat, yang mempercayai bahwa keajaiban masih ada dan dapat terjadi

Beli Sekarang

TOKO BUKU

HALAMAN BERIKUTNYA