KAU BAKAR AKU BAKAR


 

 

 

 

Dipersembahkan untuk Gus Dur

 

 

 

 

CATATAN PENULIS


Buku ini lahir dari kegelisahan yang mendalam. Waktu Gus Dur wafat, saya membuat novel Sejuta Hati untuk Gus Dur dalam 3 hari 3 malam.
Dan untuk buku ini hanya dalam waktu 2 hari 2 malam. Segala cara akan saya tempuh untuk bisa mencegah dan melawan “Hari Pembakaran Al-Quran Sedunia” pada tanggal 11 September 2010. Saya harap niat baik ini diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa dan didukung oleh masyarakat Indonesia yang cinta damai.

Jakarta, 11/08/2010

Salam Pluralis,



Damien Dematra



 





BAB 1

New York, Agustus 2010

“Waktu Papa ke sini pertama kali,wanita ini yang menyambut Bapak,” Mansur Touma berkata pada putranya. Laki-laki tua itu tersenyum dan mendongakkan kepalanya ke atas. Wanita itu tidak pernah tersenyum padanya, namun ia adalah wanita Amerika pertama yang memberinya sebuah harapan.
Ia harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Usianya sudah uzur sekarang, berbeda dengan saat pertama ia menginjakkan kaki di Pulau Ellis, New York. Ia begitu bersemangat. Ia yakin Amerika dapat memberinya sebuah kebebasan—sebuah harapan baru.
Khadir tidak berkata banyak pada ayahnya yang sudah nyaris tidak dapat mendengar. Baginya, Amerika adalah negaranya, dan sebuah tempat terbaik yang tidak dapat didebat.
Mansur bersandar pada pagar penahan, berdiri di atas jembatan sepi. Ia tersenyum melihat sang wanita.
Khadir mengikuti perbuatannya. Bagi ayahnya, wanita itu adalah simbol harapannya, sesuatu yang sangat berarti—sebuah pengalaman yang tidak dapat terlupakan saat pertama ia


menginjakkan kaki di tanah yang menjanjikan kebebasan itu. Ia sangat mencintai negara itu.
Bagi Khadir, yang lahir di tanah Amerika, yang tidak pernah mengunjungi dan mengenal negara lain, wanita itu adalah sebuah fenomena biasa. Ia sering melewatinya tanpa mendongak lagi. Tidak ada perasaan khusus yang ditimbulkannya. Senyumnya yang dingin tidak pernah memberikan debaran seperti yang dilihatnya di mata ayahnya tiap kali memandangnya. Baginya, kebebasan itu tidak seperti dalam puzzle utuh seperti yang digambarkan ayahnya.
Sang ayah berjalan menjauh, ingin menikmati kesendiriannya bersama sang wanita. Ia nyaris tidak pernah pergi ke luar lagi. Entah berapa lama ia masih akan dapat bertahan. Ia tidak ingin menanyakannya. Biarlah kehidupan mengalir apa adanya.
Mansur menutup mata, kemudian mendongakkan kepala, tersenyum pada wanita pertama yang membuat dadanya berdebar-debar.
Sang patung kebebasan.
Patung Liberty.
Mansur tersenyum padanya dan berjalan mendekati putranya. “Kamu tahu, tempat ini memberikan kebebasan pada siapa pun.”
Khadir mengangguk, namun dalam hati ia berkata, ya, Papa. Sampai sebelum para teroris membuat kita dicurigai. Sebelum Islam dan Kristen menjadi dua agama yang bersanding dan saling mengklaim, bahwa mereka adalah yang paling benar...dan sebelum sebuah gereja mencanangkan untuk membakar kitab suci kita atas nama kebenaran yang mereka yakini dan atas dasar kebebasan yang mereka miliki.
Tiba-tiba Mansur berkata, “Tidak ada yang sesuatu yang sempurna, Nak. Bahkan kebebasan itu sendiri.”
 

Khadir menatap mata tua yang sudah nyaris buta itu, tidak tahu apa yang harus dikatakannya, namun Mansur berkata lagi, “Ayo kita pulang.”
Khadir terdiam selama beberapa saat. Mansur menjejakkan tongkatnya di atas jalanan aspal. “Apa yang membuatmu ragu?”
“Di mana pulang itu, Papa?” tanyanya.
Mansur tersenyum tipis, “Di mana kamu diperbolehkan berpijak, di situ tempat kamu pulang.”
Mereka berjalan pulang bersama. Khadir, yang sehari-harinya menjual karpet Arab di daerah kota menuntun ayahnya menuju New York City Subway. “Kamu sudah mendengar berita itu, Nak?”
Nafas Mansur yang terengah-engah setelah menapak puluhan tangga menuju ke bawah dan mencari udara di tengah sesaknya massa yang berjejalan dalam stasiun kereta api bawah tanah terbesar, melalui pria dan wanita dalam aneka setelan kerja yang modis, para pria mengenakan kemeja, menyampirkan jasnya karena panas, dan menggenggam tas tangan yang terlihat ringan. Dengan acuh, dan masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri, mereka berjalan di antara remaja mengenakan pakaian metal dengan rambut di cat warna-warni, para wanita muda dalam gaya rambut rapi, sebagian dipotong sangat pendek, tegas dan ringkas, dan sebagian membiarkan rambutnya terbang dengan santai. Tidak banyak yang berjalan dengan pelan, sekalipun saat itu masih musim libur dan cuaca berada dalam kondisi puncak bagi New York. Tidak panas dan tidak dingin.
Khadir, yang mengenakan baju kerja-garis-garis biru-putih dengan lengan yang digulung ke atas dan sepatu kulit cokelat tua, dengan celana cokelat muda, bersandar di dekat tiang, memperhatikan sebuah keluarga kulit hitam.
“Mereka akan membakar kitab suci kita untuk memperingati hari pengeboman World Trace Centre, 11 September.”
 

Khadir tersentak. Ayahnya mengetahuinya! “Lalu, apa yang Papa lakukan?”
“Pekerjaan Allah tidak dapat dibendung manusia.”
“Kau tidak marah, Papa?”
“Apakah Allah mau supaya kita marah?”
“Di Al-Quran dikatakan kita harus melawan musuh-musuh Islam?”
“Nak, lihat baik-baik sekelilingmu. Kau akan menghancur-kan mereka semua?”
“Um...Pa, aku bukan teroris.”
“Kalau begitu, jangan berpikir seperti mereka.”
“Jadi kau akan membiarkan mereka?”
“Al-Quran adalah Kitab dari Allah. Biarlah mereka mem-pertanggungjawabkannya sendiri pada Allah.” Ia berkata dengan sebuah ketenangan yang luar biasa, dan Khadir merinding dengan gentar mendengarnya.
Siapakah mereka yang menghakimi sesama umat manusia?

Khadir tiba di rumah mereka, di daerah downtown New York, setelah melewati sebuah gang penuh dengan restauran Arab. “Assalamualaikum,” ia menyalami ibunya, seorang wanita dengan cadar hitam yang menjual buah di bagian depan. Khadir berjalan masuk ke dalam sebuah rumah bertingkat dua beratap sederhana, menuju kamarnya. Ia mengetikkan kata “Dove World Outreach Centre, Florida.”
Keningnya berkerut dalam.
Sebuah ketukan terdengar di pintu. “Papa?” seorang gadis kecil dengan jilbab putih melongokkan kepalanya dari balik pintu. Matanya cokelat besar dan pipinya kemerahan.
“It’s lunch time.”
Khadir mengusap wajahnya. Tidak benar ini, pikirnya.
Sangat tidak benar.
 

Ia melihat Al-Quran di sampingnya, kitab suci yang setiap hari dibukanya. Ia tidak berani meletakkannya di sembarang tempat, menindihnya dengan barang-barang lain, atau melemparnya.
Membakarnya?
Astagfirullah.
Ia melihat kalender di depannya. Ia dapat mengambil cuti.Ya, ia akan melakukannya.

 


BAB 2

Gainesville, Florida, USA

Gainesville terletak di jantung negara bagian Florida, di tenggara Amerika Serikat, berbatasan dengan Teluk Meksiko dan Samudera Atlantik dengan tatanan kota yang tidak padat seperti kota Jakarta. Penduduk kota itu hampir tujuh puluh persen berkulit putih. Kota ini merupakan tempat mahasiswa, dan salah satunya adalah Universitas Florida. Universitas nasional ketiga terbesar di Amerika. Biaya hidupnya rendah dibandingkan negara-negara bagian Amerika Serikat yang lain.
Saat itu musim panas. Cuaca di Gainesville sedang terik. 32 derajat Celcius, menyamai kondisi kota Jakarta. Jalanan hari Minggu itu lengang. Mahasiswa sedang bersantai di taman, berpacaran, atau makan pizza dan nonton film, sebagian lagi sedang khusuk berdoa di gereja.
Jalanan menuju tempat itu besar. Rumah-rumah bergaya cape house dari kayu dan pertengahan tahun lima puluhan yang dibangun arsitek setempat nampak di beberapa area. Berjajar sepeda diparkir di depan, dengan mobil-mobil buatan Amerika

dan Jepang di halamannya. Tidak jauh dari tempat itu terlihat papan yang ditancapkan sepenggal-sepenggal. ISLAM IS OF THE DEVIL.
Terlihat seorang penginjil yang berpakaian rapi berkhotbah, “Adalah tugas kita, sebagai umat Kristen, untuk mengatakan apa yang benar pada dunia, untuk meluruskan apa yang salah. Adalah tugas kita untuk kembali kepada apa yang disampaikan Tuhan dalam Alkitab, kembali kepada jalan yang telah ditetapkan Tuhan. Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada orang yang sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” Pria itu memandang jemaatnya dengan tatapan tenang, nyaris menghipnotis. “Adalah tugas kita untuk mengatakan apa yang benar pada dunia. Kasihanilah mereka yang sesat.” Ia terdiam sejenak, membiarkan apa yang telah dikatakannya meresap, kemudian berkata, “Seperti yang tertulis dalam 1 Korintus 6, Surat Paulus kepada jemaat di Korintus. Neither the sexually immoral nor idolaters nor adulterers nor male prostitutes nor homosexual offenders nor thieves nor the greedy nor drunkards nor slanderers nor swindlers will inherit the kingdom of God.” Ia mengangkat tangannya. “Dan apa yang sekarang terjadi? Kota kita bahkan dipimpin seorang homo!” Ia menggelengkan kepala. “Jadi, apa yang harus kita lakukan? Apa yang paling mudah kita lihat dan cerna? Penyerangan WTC! Teroris! Apa yang membuat mereka melakukannya?” Ia membiarkan kalimat itu menjadi sebuah kalimat yang menggantung dan melanjutkan, “Kitab Suci yang mereka percayai mengatakan bahwa Yesus Kristus kita, yang telah bangkit dari kubur, anak Allah yang Maha Tinggi, Raja di atas segala Raja, bukanlah anak Allah dan karena itu, Saudara-Saudara, mereka telah meniadakan keselamatan itu sendiri.” Ia menarik nafas panjang, dan berkata, “Karena itu, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, “Marilah kita menentang Al-Quran. Bukan umat muslim, namun

kitab sucinya, agar saudara-saudara kita itu tidak lagi disesatkan dengan membakar kitab yang telah menyesatkan mereka. Marilah kita mengatakan pada mereka, apa yang benar, demi keselamatan mereka sendiri.” Ia melihat beberapa dari anggota gerejanya masih menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya, dan ia menambahkan, “Saya telah menulis sebuah artikel, “Ten Reasons to Burn a Koran. ” Kalian dapat membacanya di web saya atau mengambilnya di bagian depan. Saatnya kita kembali ke jalan yang benar. Kembali pada kitab suci yang benar.”

 

BAB 3

Jakarta

Abraham Kaligis, seorang berperawakan sedang dengan wajah simpatik, berusia awal empat puluhan, dengan kacamata dan raut wajah serius dan berdedikasi, melihat barisan jemaat yang akan menyalaminya telah tiba di ujung. Tinggal Sandra, wanita muda keturunan Tionghoa berambut sebahu yang terlihat pemalu, yang bekerja di bank. “Bagaimana persiapan pernikahannya, Sandra?”
“Baik, Pak Pendeta.”
“Apa orang tuamu sudah setuju?” Abraham tersenyum.
Sandra menunduk sejenak sebelum berani mengangkat wajahnya kembali, “Ya, Pak Pendeta. Bapak bilang apa ke Mama? Kayaknya sekarang dia support banget sama pernikahan aku? Dulu dia kayaknya gimana—gitu. Sejak Bapak dateng dia jadi ramah banget sama Soni.”
Monika, seorang calon penatua yang bertugas sebagai penerima tamu, seorang wanita muda yang baru pulang dari Amerika, berambut yang terlihat sangat cuek dan praktis,

tersenyum simpul, mengetahui bahwa calon suami Sandra adalah seorang yang berbeda suku.
Abraham hanya mengangguk ramah dengan gaya kebapakan. “Ah, cuma dikasih sedikit pengertian. Sisanya Tuhan yang bekerja.”
“Terima kasih, Bapak sudah jadi tangan Tuhan.”
“Kamu jangan terima kasih ke saya. Terima kasih ke Tuhan.”
Sandra tersenyum dan berjalan pergi, sementara Monika menganggukkan kepala padanya. “Ke konsistorium sekarang, Pak?”
Abraham mengangguk. Kakinya melangkah di atas tegel abu-abu gelap yang berkesan dingin dalam gereja tua dengan yang dipimpinnya dalam jubah pendeta, sebuah toga hitam dengan sedikit garis putih di bagian leher.
“Sebenernya, Bapak bilang apa sih sama orang tuanya Sandra?” tanya Monika penasaran pula.
Abraham tertawa pelan. “Sederhana saja. Sebuah peraturan emas.”
“The Golden Rule?” Monika bertanya.
“Iya. Itu Inggrisnya aja. Peraturan itu berlaku untuk semua makhluk di muka Bumi ini. Saya cuma sekedar mengingatkan.”
Abraham melihat Encim Mei Ling yang selalu menjual kerupuk di pasar berjalan keluar perlahan dari deretan kursi panjang gereja dan tersenyum padanya. Wanita tua itu berambut tipis pendek dengan mata keabuan pendek dan tubuhnya sudah agak bungkuk, namun di wajahnya menyiratkan kegigihannya menghadapi kehidupannya sebagai seorang janda yang tinggal sendiri. Wanita tua itu tersenyum padanya.
Abraham mengangguk dan berjalan mendekatinya. “Gimana kabarnya, Cim?” ia memperhatikan bahwa Encim Mei Ling berdoa sangat lama dan baru selesai setelah hampir seluruh

jemaat yang hadir, yang berjumlah sekitar tujuh ratus orang keluar dari ruangan.
“Baik, Pak Pendeta.” Wanita itu mengangguk hormat, tersenyum dengan bibir dan matanya.
Abraham tersenyum. “Darah tingginya masih sering kambuh?”
Encim Mei Ling menunduk sejenak. “Mungkin. Kadang-kadang saya maunya suka marah-marah sendiri, Pak Pendeta.”
Abraham Kaligis tersenyum penuh pengertian. “Mungkin itu bukan karena darah tinggi. Encim lagi banyak pikiran?”
“Um—yah. Sedikit.”
Monika berkomentar dalam hati, katanya baik-baik aja. Begitulah orang timur.
“Nanti dicek lagi darah tingginya. Besok sore, ya, saya jemput? Saya antar ke klinik gereja.”
Wajah itu menjadi sumringah. Ia mengulurkan tangannya yang mulai keriput pada Abraham dan pria berkulit kuning langsat itu menerimanya dan menggenggamnya dengan erat.
“Tuhan berkati, Pak Pendeta. Tuhan berkati.”
Abraham mengangguk, “Ya, Cim. Untuk Encim juga.” Ia menunggu sampai Encim Meiling meninggalkan tempatnya, kemudian berjalan ke arah belakang melalui pintu samping gereja. Matanya melihat ornamen salib besar di belakang mimbar—sebuah lambang pengorbanan dan pengampunan. Ia selalu berpikir bahwa salib itu lebih seperti simbol. Ia hanya dapat membayangkan bahwa salib sesungguhnya tidaklah sehalus dan seindah itu. Salib yang dibebankan pada Yesus adalah belahan kayu yang diperuntukkan bagi orang-orang hukuman. Kesalahan dibayar dengan hukuman. Sebuah hukum jagat raya yang tidak dapat dilawan, dan manusia tidak dapat menanggung hukuman karena kesalahan fatal yang telah dibuat mereka, sehingga Allah mengirimkan Yesus untuk

menanggungnya, membayar dosa umat manusia. Manusia tidak menjadi suci dan tanpa cacat setelahnya, namun pintu Surga yang tertutup sejak manusia jatuh dalam dosa telah terbuka.
Ia menarik nafas diam-diam. Bayangan bahwa Yesus disiksa sampai mati demi dirinya menggetarkan hatinya.
“Pak Pendeta?” panggil Monika.
“Ya?”
“Siang ini kita jadi menjenguk Aminah?”
Abraham mengangguk. “Ya, kita berangkat setelah ini.”
Ia masuk ke dalam ruang konsistori yang lebih merupakan sebuah tempat kecil untuk berkumpul setelah ibadah.
Imelda, seorang penatua telah berada di sana. Wanita itu berambut sebahu, berombak dengan raut wajah keibuan dan kulit wajahnya yang kuning langsat agak kasar. Ruben, penatua lain yang juga bertugas pada hari Minggu itu, seorang pengusaha berusia awal lima puluhan dan merupakan salah satu donatur besar bagi gereja itu, berjalan mendekatinya. “Pak, sudah mau berdoa?”
Abraham mengangguk. Ia berdiri diam, menatap lantai dan merenung. Bagaimana pun, ia baru saja memberikan pengajaran atas nama Tuhan. Ia telah menekankan ajaran-ajaran yang harus diyakini umatnya.
Atas nama Tuhan.
Pengertian kalimat itu selalu membuatnya gentar dan mengingatkannya untuk tidak pernah lengah dan selalu berhati-hati. Ia selalu berusaha menggumulkan apa pun yang akan disampaikannya pada jemaatnya dengan khusuk. Ia tidak mungkin menyesatkan mereka. Apa yang harus dikatakannya pada sang Ilahi saat ia dimintai tanggung jawab, apabila ia telah membuat orang tersesat?
Itulah yang membuat mereka selalu berdoa sebelum memasuki bagian khotbah, dan membiarkan Tuhan yang

bekerja, yang dalam istilah yang sering dipakainya dan rekan-rekannya, adalah ‘membiarkan Tuhan beracara’, karena ia, seorang yang mengarahkan apa yang diyakini orang lain, akan berargumen dan bertesis tentang kebenaran.
Ia memejamkan mata, berterima kasih untuk kesempatan yang masih diberikan padanya untuk berkhotbah, untuk menyiarkan berita baik itu. Dalam keheningan doa, ia merasa sesuatu dalam hatinya bergerak--ada sesuatu yang ingin berbicara padanya.
Sesuatu yang halus. Ia belum dapat mencernanya langsung.
Saat membuka mata
Ia belum mengerti apa, namun sesuatu akan terjadi, atau sedang terjadi. Ia membuka mata dan bertanya-tanya dalam hati. Apakah Aminah sedang sekarat? Pikirnya, berpikir tentang anggota jemaatnya yang tidak mampu, seorang pembantu rumah tangga harian yang mengidap kanker paru-paru.
“Pak?” panggil Monika, menatap Abraham.
“Ya?”
“Saya siapkan mobilnya?”
“Biarkan saya yang menyetir,” kata Abraham. Monika tersenyum menatap sang pendeta, melirik Imelda dan Ruben yang masih berada di sana pula. “Saya juga bisa nyetir, kok, Pak.”
Abraham tertawa pelan. “Saya yakin itu, tapi tidak apa-apa. Biar saya saja.”
“Pak Abram ini tidak ingin dilayani, meskipun pendeta,” Ruben bercanda.
“Lo, justru karena saya pendeta, saya harus melayani orang lain,” Abraham berkilah, membalasnya dengan ramah.
“Tapi saya lebih muda daripada Bapak,” kata Monika membantah dengan ramah.
 

Tiba-tiba Abraham merasakannya lagi—sebuah tendangan dalam hati yang meresahkannya. Apakah ada yang akan meninggal, pikirnya? Ia tahu keluarganya baik-baik saja, karena ia masih melihat anak istrinya di gereja. Ia meninggalkan tempatnya beramah-tamah dan bersosialisi, dan pergi ke halaman. Daerah parkiran telah sepi. Dadanya sesak. Ia berusaha menarik nafas dengan lebih teratur. Akhir-akhir ini ia semakin dapat merasakannya. Entah apa yang sebenarnya terjadi padanya. Mungkin ia telah menjadi lebih pasrah, namun ia mulai merasakan bahwa intuisinya, tentang sesuatu yang akan terjadi di depan, semakin kuat.
Ia mendongakkan kepala ke langit biru dan melihat arak-arakan lembut di udara. “Ya, Tuhan,” bisiknya. “Apa yang ingin Kau sampaikan padaku?” Ia mengusap rambutnya.
“Pak? Kita pergi sekarang?” Monika memanggilnya. “Pak Ruben sudah menunggu.”
Abraham tersentak dan melihat wanita itu dan mengangguk. “Baiklah.”

*

“Jadi, bagaimana kabar kamu hari ini?” tanyanya pada Aminah yang terlihat pucat dan kurus.
“Pak Pendeta, Pak Ruben, Ibu Monika. Terima kasih sudah menjenguk saya. Saya merasa lebih baik hari ini.”
Abraham menatap seorang pria tua dari seksi sosial gerejanya, Henokh. Sejak pensiun, pria tua itu banyak mengurus mereka yang membutuhkan pertolongan, 24 jam. Pria tua itu sekarang berdiri di dekat wanita yang terbaring lemah itu. “Hari ini keadaannya membaik, Pak.”
“Obatnya sudah diminum?” tanya Abraham pada Aminah.
 

Wanita yang terbaring lemah itu mengangguk. Ia mengulurkan tangannya pada Abraham dan pria tua itu meraihnya dan menggenggamnya.
“Pak, hari ini sibuk, ya, pastinya?” tanya wanita itu lemah, keningnya berkerut menahan sakit.
“Kenapa?” tanya Abraham lembut. “Kamu mau minta apa?”
“Temani saya sebentar, Pak. Bisa?” tanyanya pelan.
Abraham menatap Monika, Ruben, dan Henokh, kemudian mengangguk. “Ya, bisa.” Ia menatap wanita yang sebatang kara itu dan membayangkan bagaimana rasanya berada di tempatnya. Ia memiliki keluarga di kampung, namun tidak ada yang mempedulikannya—tidak sejak ia memilih ke gereja.
“Saya ke gereja dulu, Pak,” kata Henokh. “Tadi Ibu Sari bilang katanya mau ke sini.”
Abraham mengangguk. Monika menatap pria itu. Sepertinya Aminah ingin sendirian dengan pria itu. Mungkin ada yang ingin disampaikannya. “Pak, saya ke luar sebentar, ya?”
Monika pergi keluar dengan Henokh dan Ruben.
Abraham tetap memegang tangan wanita yang sudah terasa lemah. Abraham merasa hatinya teriris. Wanita ini bahkan tidak dapat memegang tangannya dengan erat.
“Pak?” panggil wanita itu lagi.
“Ya?”
“Kenapa saya sakit? Apa Tuhan marah sama saya?”
Abraham sudah dapat memperkirakan pertanyaan ini. “Kenapa? Apa kamu merasa membuat Tuhan marah?”
“Keluarga saya marah sama saya.”
“Mereka cuma nggak mengerti. Setiap orang punya pikiran beda. Nggak apa-apa.”
“Nggak apa-apa?” tanya Aminah lemah.
“Ya, nggak usah dipikirin. Jangan nambah pikiran apa yang nggak bisa kamu apa-apain.”
 

“Saya berdoa untuk mereka setiap hari.”
Abraham mengangguk. “Bagus itu.”
“Apa Bapak juga akan berdoa untuk mereka?” tanya Aminah lagi.
“Ya.”
“Bapak akan minta apa sama Tuhan? Apa supaya mereka jadi Kristen juga?”
Abraham tersenyum simpul. “Tidak. Kenapa mereka harus menjadi Kristen kalau mereka telah memilih Islam?”
“Saya menjadi Kristen.”
“Apa saya pernah suruh kamu jadi Kristen?” tanya Abraham tenang, menatap wajah yang pucat itu dan ia dapat melihat perubahan di wajah wanita itu. Ia tertawa kecil. “Ndak sih. Saya hanya ngerasa lebih sreg.” Ia mendesah lagi. “Jadi, Bapak akan berdoa apa?”
“Supaya mereka mau jenguk kamu dan kalian berdamai kembali. Islam atau Kristen, yang penting kalian rukun. Tidak ada kedamaian di atas pertengkaran. Tidak ada gunanya.”
Tangan itu mengeras. “Pak, kalau saya nggak bisa ketemu mereka, apa Bapak bisa sampaikan kalau saya sayang dan hormat sama mereka. Pilihan saya ndak ngurangin rasa hormat saya.”
Abraham mengangguk. “Ya. Saya akan sampaikan. Sekarang saya minta kamu janji sama saya dulu.”
“Apa?”
“Jangan banyak pikiran.” Abraham melepaskan tangannya dengan pelan dan menunjuk ke atas. “Ada Dia yang bersama kita, yang mengerti kesakitan dan penderitaan kita. Kenapa kamu nggak pasrahkan semuanya?”
Setetes air mata mengalir jatuh dari matanya. “Kenapa Tuhan sayang sama saya, Pak? Saya ini orang kecil.”
 

“Kecil, besar, apa pun dan bagaimana pun—kita semua ciptaanNya. Tuhan itu Kasih, dan ia mengasihi seluruh isi dunia, di luar kemampuan kita untuk memahaminya. Kita nggak bisa ngerti apa yang lagi dibuat Tuhan, tapi cuma perlu yakin. Tuhan menyayangi kita dan peduli sama kita.”
“Meski saya sakit kayak gini?”
“Setiap manusia di dunia nggak ada yang nggak punya masalah. Besar atau kecil. Itu adalah bagian dari perjalanan manusia. Bagian dari perjalanan ke tempat yang lebih baik.”
“Ke Surga,” kata Aminah.
Ya, perjalanan musafir mencari oase abadi, renung Abraham.
“Tiap manusia punya mangkok kesusahan hidupnya sendiri-sendiri yang musti diminum. Ada yang mangkoknya besar, ada yang kecil. Ada yang isinya sudah mau habis, ada yang masih penuh. Kenapa mangkoknya lain-lain...” Abraham merenung sejenak sebelum melanjutkan, “Mungkin orang yang minum, hanya sanggup minum sejatah itu. Mungkin orang itu nambahin isinya sendiri, nambah-nambahin kesusahan hidup sendiri jadi mangkoknya makin penuh.”
“Gitu, ya. Jadi Tuhan nggak marah sama aku?”
“Tuhan marah atau nggak, bisa kamu rasa di sini,” Abraham menunjuk ke dadanya. “Kalau Tuhan marah, yang pertama akan tahu, seharusnya kamu sendiri karena Dia akan langsung bicara sama kita. Tapi kalau kamu nggak bisa denger, Dia bisa memakai cara lain untuk bilang kalau kita salah.”
“Menurut Pak Pendeta, aku nggak perlu gelisah?”
“Kamu gelisah kenapa, Nak?”
“Aku mikirin keluargaku di kampung.”
“Hanya itu?”
“Ya.”
“Pasrahkan semua. Cuma itu yang bisa kamu lakukan.”
 

Monika dan Ruben masuk kembali ke dalam ruangannya dan Aminah tersenyum padanya. Setelah mereka bercakap-cakap sejenak, Aminah bertanya pada Abraham, “Pak Pendeta mau berdoa untuk saya?”
“Ya. Ayo.”

“Pak, kenapa Bapak ngajak saya?” tanya Monika pelan. Di kursi belakang, Ruben yang akan diantarkan pulang lebih awal karena rumahnya lebih dekat, menatap Monika dari belakang, namun tidak berkomentar. Monika menatap figur kalem di sebelahnya. “Maksud saya, memang ini kan tugas gereja, menolong orang. Tapi—”
Abraham melirik Monika sejenak, kemudian memperhatikan jalanan protokol yang cukup lengang pada hari itu. “Kenapa saya sering ngajak kamu? Pastinya nggak untk disetirin,” kata Abraham dengan nada bercanda.
Ruben tersenyum simpul.
Monika menatap Abraham. Orang ini. Bercanda pun keliatan serius, pikirnya. Ia mendesah panjang.
“Kenapa itu?”
“Beban yang tidak tersalurkan,” kata Abraham tenang.
“Saya ini kurang pengertian dan sabar, ya, Pak? Maksudnya, saya ini kemudaan, dan meskipun udah lulus MBA dari Amrik, aktif di organisasi mahasiswa Indonesia di sana, dan magang dua tahun, nggak ada artinya.”
“Siapa yang bilang nggak ada artinya?” tanya Abraham membalasnya sejenak.
Monika mendesah. Kenapa pria ini selalu dapat membuatnya menjadi nggak PD seperti ini? Padahal ia biasa menghadapi bos-bosnya di Amerika dan mengutarakan pendapatnya. Ia melirik pria itu lagi. Orang ini kalem banget sih, pikirnya. Pria ini memang belajar sampai ke jenjang yang lebih tinggi daripada

dirinya, tapi nggak ada tanda-tanda yang menunjukkan kesombongannya.
“Di depan Tuhan, semua manusia sama,” kata Abraham. “Siapa yang tahu isi hati manusia yang sebenarnya?”

*

Malam itu Abraham tidak dapat tidur. Ada sesuatu yang mengganggunya. Dadanya terasa tidak enak, dan ia berdoa, namun perasaan itu tidak juga hilang.
“Ya, Bapa,” batinnya dalam ranjang yang berderit setiap kali ia bergerak. “Apa yang sedang terjadi?” Ia menoleh ke sebelah. Istrinya sedang tidur dengan nyenyak. Kamar itu tidak luas, namun terasa sejuk. Jemaatnya yang sekarang sanggup memberikannya sebuah rumah dengan AC. Ia tidak terlalu banyak meminta dalam hidup. Ia sadar, pekerjaannya sebagai pendeta bukanlah sebuah lahan untuk mencari uang. Ia akan menjadi seorang pengusaha kalau membutuhkan lebih banyak uang; namun, ia tidak pernah kekurangan pula, kalau ia tidak menghambur-hamburkan uangnya untuk hal yang tidak perlu.
Perlahan, ia bangkit berdiri, tidak ingin menimbulkan gerakan yang tidak perlu pada tempat tidurnya. Kakinya menjejak pada lantai yang dingin. Ia melirik weker dengan tanda hologram hijau yang berpendar. Pukul tiga lewat lima menit. Sudah empat jam ia bergulat di tempat tidur tanpa melakukan apa pun kecuali berusaha mencari tahu apa yang akan terjadi.
Ia tidak berhasil mengetahuinya dan hal itu membuat hatinya semakin gundah. Kakinya melangkah melintasi ruang makan mungil yang ditempati seperangkah meja makan dari kayu dengan nuansa tradisional. Anggota jemaatnya ada yang mengusahakan bisnis anyam-anyaman dan rotan di daerah Jawa Tengah dan memberikannya untuk rumah mereka. Kakinya

berjalan ke ruang tengah dan duduk. Ia menyalakan TV. Tidak ada yang cukup menarik hatinya, namun menonton membuatnya agak mengantuk. Satu jam kemudian, ia berjalan kembali ke kamar dan merebahkan diri. Tubuhnya sangat letih.
Mungkin aku kecapaian, pikirnya. Ya, itu dia. Atau aku kurang olah raga. Ia meraba bagian perutnya yang agak menonjol. Hmm... ya, mungkin.
Sudahlah. Malaikat di depan pintu Surga tidak akan mengukur seberapa maju perutku. Yang diukurnya hanya satu. Seberapa dalam cintaku pada Sang Ilahi.
Ia mendesah. Tapi aku tetap harus Olah Raga. Aku harus menjaga tubuh supaya tetap sehat. Itu pun amanat Tuhan.
Sudahlah.
Terlalu banyak pikiran yang ringan akhirnya membuatnya mengantuk, dan ia terlelap sampai dua jam kemudian.

 

BAB 4

Abraham memarkir mobilnya, kemudian melangkah masuk ke dalam kantor berlantai dua. Tempat itu adalah sebuah organisasi perkumpulan gereja.
“Pak? Selamat pagi,” Benedita, wanita muda berkulit hitam dan berambut keriting dengan wajah cerah, menyapanya dari balik meja kayu tinggi dalam ruang penerima tamu yang kecil itu. Wanita itu harus berdiri dan melongokkan wajahnya karena meja itu terlalu besar baginya.
Abraham membalasnya cepat. “Selamat pagi.”
“Nggak biasanya, Pak. Hari Senin begini datang pagi.” Hari Senin adalah hari libur para pendeta secara umum.
“Oh ya. Ada yang harus dikerjakan. Ada banyak surat.”
Wanita itu tersenyum, memperhatikan pria itu berjalan masuk. Makin serius aja wajahnya, pikir wanita berkulit gelap itu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Pak, acara hari Rabu ini dari Gerakan Peduli Pluralisme di sini jadi?”
Oh iya. Acara untuk mengenang Gus Dur. Sebuah Renungan tentang ‘Merawat Pluralisme’. Ia mengangguk. “Ya, nanti saya konfirmasi ulang dengan Damien.”
 

Beli Sekarang 

TOKO BUKU

HALAMAN BERIKUTNYA